Rabu, 26 Januari 2011

THE GIRL WHO KICKED THE HORNETS' NEST,' Akhir Cerita Perempuan Penyulut Api

Judul: THE GIRL WHO KICKED THE HORNETS' NEST
Sutradara: Daniel Alfredson
Skenario: Ulf Ryberg
Berdasarkan novel karya Stieg Larsson
Pemain: Noomi Rapace, Michael Nyqvist, Lena Endre, Anders Ahlbom Rosendahl



Akhir dari sekuel The Girl Who Played with Fire yang mengguncang itu adalah Lisbeth Salander dikubur hidup-hidup oleh ayahnya sendiri. Sang ayah, yang disangga tongkat dan berwajah setengah hancur karena pernah disulut api oleh anaknya, dibantu oleh manusia bertubuh gigantik dari "beton" (saking keras dan tingginya); berambut salju dan tampak dungu seperti robot yang mudah diperdaya. Film terakhir ini adalah saat Lisbeth yang sudah luka parah karena tiga tembakan dirawat di rumah sakit oleh dokter yang sangat berperhatian dan protektif kepadanya; sedangkan sang ayah jahanam menderita luka-luka karena kepalanya dihajar kapak Lisbeth, juga dirawat di rumah sakit yang sama.


Untuk seorang perempuan yang lebih suka bertindak, terkurung di rumah sakit demi kesembuhannya adalah sesuatu yang menyiksa. Karena itu, kiriman ponsel smartphone yang diselundupkan Mikael Blomkvist, wartawan investigasi majalah Millennium, sahabatnya yang sesekali menjadi teman tidurnya (pada sekuel pertama), terasa membantu.


Nun di ruang pengadilan, Lisbeth sudah ditunggu oleh para lelaki keji di masa lalunya: pertama, Dr Teleborian (Anders Ahlbom Rosendahl), seorang psikiater yang merawat Lisbeth Salander dan menyiksa serta mengikatnya selama 381 hari di tempat tidur. Psikiater ini sudah siap memberikan kesaksian bahwa Lisbeth gila dan harus dijebloskan kembali ke rumah sakit jiwa. Kedua, sang ayah yang dalam hal ini malah dianggap korban kapak Lisbeth (lalu kenapa fakta bahwa Lisbeth yang masih hidup itu dikubur ayahnya tak dipersoalkan?) juga sudah siap menuntut. Ketiga, Nils Bjurman, wali Lisbeth yang dulu memperkosa Lisbeth. Namun lelaki keji kedua dan ketiga telanjur tewas.


Tetapi problem sang hacker jenius ini belum selesai. Di pengadilan, dia akan dibela oleh seorang pengacara yang tengah hamil-yang semula membuat kita tak yakin karena sang pengacara tampak lembut dan mudah diinjak. Apalagi, saat di pengadilan, Lisbeth sengaja muncul dengan "seragam" baju kulit rambut punk, lipstik hitam dan eye shadow hitam yang tebal. Dia duduk dengan gagah dan menantang jaksa serta hakimnya tanpa rasa takut sedikit juga.


Bagian terakhir ini tentu sebuah sekuel yang paling memuaskan bagi para penonton setia trilogi Millennium atau paling tidak pembaca novelnya. Mereka yang belum menyaksikan film pertama dan kedua pasti akan menemukan kesulitan pemahaman, karena munculnya karakter-karakter tanpa perkenalan sama sekali. Bahkan Lisbeth dan Mikael hampir tak pernah bertemu kecuali pada akhir film. Adegan ini pun tak akan mudah dipahami bagi mereka yang belum mengetahui hubungan antara Lisbeth dan Mikael yang begitu dekat dan saling percaya, meskipun mereka bukan sepasang kekasih. Adegan pertemuan yang canggung, yang hanya diisi dengan saling pandang dengan intensitas tinggi dan kata "terima kasih untuk segalanya" yang akhirnya meluncur dari mulut tipis Lisbeth. Sebuah kata yang jarang diucapkan Lisbeth kecuali dia betul-betul merasa perlu mengucapkannya.


Noomi Rapace adalah aktris Swedia yang mendadak saja menjadi bintang internasional karena film yang menggambarkan dia sebagai Lisbeth, perempuan dengan tato naga, yang ekonomis dalam kata-kata dan lebih memilih menendang atau mengguncang kemapanan sebuah sindikat yang keji terhadap perempuan. Sedangkan Michael Nyqvist yang berperan sebagai wartawan Mikael Blomkvist adalah tipikal pahlawan yang kita kenal: keras hati untuk memperjuangkan kebenaran dan lembut kepada mereka yang tertindas. Sebuah karakter yang bakalan pas untuk di-Hollywood-kan. Dan dunia memang sudah kelojotan mendengar seri pertama film ini, The Girl with the Dragon Tattoo, sedang dalam proses produksi di Hollywood dengan sutradara David Fincher, Daniel Craig sebagai Mikael, dan Lisbeth akan diperankan oleh Rooney Mara. Pembuatan ulang tak selalu menggembirakan, meski nama David Fincher sangat menjanjikan. Justru wajah-wajah yang tak terlalu bening dalam film asli made in Sweden ini membuat kita merasa hanyut dalam dunia rekaan Stieg Larsson ini.



(Dari Majalah TEMPO)





Dapatkan segera DVD film "THE GIRL WHO KICKED THE HORNETS' NEST dDREAM VISION HOME VIDEO [Sale dan Rental]


Yuk nonoton Trailernya..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar