Kamis, 03 Februari 2011

'Legion: The Final Exorcisme

Panduan Review - 'Legion: The Final Eksorsisme Review DVD

Pastor Michael Sanchica adalah seorang pendeta untuk mengusir roh-roh jahat dengan anting-anting berbentuk salib yang selalu bepergian ke seluruh negara melakukan excorcisme,pada setiap gereja yang membutuhkan keahliannya.Dan dia juga bisa melihat masa depan dan masa lalu dan kadang-kadang mendapat stigmata atau petunjuk. Kasus terakhirnya adalah seorang gadis 16 tahun bernama Tatiana, yang anak tiri dari seorang pendeta di sebuah kota kecil.Dia telah mengalami penglihatan, mendengar suara-suara setan dari hewan ternak,setiap mengalami contortions tubuhnya akan melayang dan kemudian mengakibatkan orang tuanya sangat jengkel.Dapatkah Michael mencari tahu kesalahan apa yang telah diperbuat gadis itu seehingga mengalami hal tersebut dan berusaha membantu gadis kecil tersebut sebelum pita suaranya menjadi luka permanen disebabkan oleh setan bersuara serak?
Legion The Last Exorcisme ini tidak sebagus film pertama yang telah mereka rilis Legiun ( banyak yang mengatakan dan  mengingatkan bahwa film Legiun cukup mengerikan).Film ini mendaur ulang semua klise standar film exorcisme - gadis muda yang tidak bersalah, suara-suara setan mendalam, contortions tubuh, levitasi, para imam dengan masa lalu yang bermasalah (istri dan anak perempuannya meninggal saat eksorsisme gagal) - tapi dengan anggaran yang rendah dan arahan amatir, eksekusi menjadi hal yang sangat menyakitkan untuk mengusir setan dari diri sendiri.Dalam beberapa kasus -  suara-suara emanting setan dari babi dan ayam - ini benar-benar lucu (uninentionally) kedengarannya.
Wajah-wajah aktor yang hanya dikenal dalam produksi film kelas dua ini adalah produksi Z yang banyak meminati pegulat-pegulat pro pada filmnya kini berpaling pada-aktor "Rowdy" Roddy Piper, yang mulai menjanjikan dalam peran sedih pada film "John Carpenter's Live" mendapat peran pendukung dalam Legion dengan tarif sekali pakai: The Last Exorcisme, di mana ia muncul di layar selama kurang dari 10 menit.
Sebagian besar film adalah rentetan konyol, mempercepat "visi" yang dialami oleh pengusir setan dan exorcisee dan foto yang diduga mengganggu gadis kerasukan setan dengan melakukan transformasi - 

Dapatkan segera DVD film "Legion The Final Exorcisme" di  DREAM VISION HOME VIDEO [Sale dan Rental] yang telah tersedia...

Yuuk nonton trailernya...!

Rabu, 02 Februari 2011

LIFE AS WE KNOW IT', Takdir Memang Tak Bisa Diduga

Pemain: Katherine Heigl, Josh Duhamel, Josh Lucas, Christina Hendricks, Jean Smart
Rating: 2 star

Sinopsis:
Dalam sekejap mata Holly Berenson (Katherine Heigl) dan Eric Messer (Josh Duhamel) harus menjadi ayah dan ibu dari Sophie (Juliet Schmidt) yang ditinggal mati orang tuanya. Bayangkan saja betapa paniknya mereka berdua karena pada dasarnya Holly dan Eric sama-sama tak sepaham. Kalaupun ada kesamaan di antara mereka, itu hanyalah rasa saling tidak suka di antara mereka.
Sejak kencan pertama pun Holly dan Eric sudah menyadari kalau mereka berdua tak akan bisa cocok. Masalahnya, sekarang mereka terpaksa harus menyisihkan ego mereka karena Sophie sudah tak punya siapa-siapa lagi. Merawat Sophie bukanlah sebuah keterpaksaan buat Holly dan Eric karena mereka berdua sama-sama menyayangi Sophie. Hanya saja Holly tak tahan dengan tingkah laku Eric dan begitu juga sebaliknya.
Masalah Holly dan Eric bukan hanya itu. Holly harus menjalankan bisnis kateringnya sementara Eric adalah seorang sutradara acara olahraga di sebuah stasiun televisi. Mereka punya jadwal sendiri-sendiri sementara mereka juga harus berbagi jadwal untuk merawat Sophie. Sanggupkah dua orang berbeda prinsip hidup ini tinggal di bawah satu atap demi bayi mungil yang sama-sama mereka cintai?
Review:
Satu lagi film komedi yang terjebak formula film komedi Hollywood. Tak ada yang benar-benar fresh dari LIFE AS WE KNOW IT ini. Akan lebih tepat kalau film ini disebut sebagai sebuah film recycle karena hampir semua adegan dalam film ini bisa kita dapatkan dari film-film komedi yang telah muncul lebih dulu. Kenapa? Tak ada yang tahu persis jawabnya.
Yang jelas, ada banyak 'kesalahan' dalam film ini. Yang pertama adalah logika. Coba saja bayangkan, mana mungkin ada orang yang 'mewariskan' tugas merawat anak mereka pada orang lain tanpa memberi tahu orang yang bersangkutan. Nyatanya logika itu sudah dilanggar pada saat naskah film ini ditulis dan sejak saat itu pula kisah yang ditawarkan dijamin tak akan bisa 'menyentuh' penonton.
Masalah berikutnya adalah tidak adanya kreativitas untuk membuat visualisasi dari naskah yang sudah salah tadi. Salah satu yang membuat penonton merasa 'wah' adalah saat mereka menyaksikan adegan yang tak pernah mereka dapatkan dari film-film sebelumnya. Kesan itu akan melekat kuat bahkan setelah film berakhir dan itulah yang membuat sebuah film jadi legendaris.
Yang parah lagi, Katherine Heigl tak bisa menghidupkan karakter Holly yang ia perankan. Kalau Anda perhatikan, akting Katherine dalam film ini tak beda dengan aktingnya dalam film KILLERS, padahal bisa saja ia memberikan sentuhan baru pada karakter Holly dan bukannya membuatnya jadi sama dengan karakter Jen Kornfeldt. Di saat yang sama, Josh Duhamel pun tak berbuat banyak untuk menghidupkan karakternya.(kpl/roc)

Dapatkan segera DVD film " LIFE AS WE KNOW IT" di DREAM VISION HOME VIDEO [Sale dan Rental] yang telah tersedia...

yuuk nonton trailernya

'BABIES' Satu Tahun Pertama Dalam Kehidupan Manusia

 Pemain: Ponijao, Bayar, Mari, Hattie
 Rating:3,5 star




Sinopsis
Siapa yang tak gemas melihat empat bayi lucu yang ada di dalam film ini. Mereka tak saling kenal. Tak ada yang mengatur mereka. Semuanya terjadi dengan wajar dan apa adanya. Mungkin tak banyak yang dilakukan keempat bayi ini tapi dalam kesederhanannya, empat bayi ini bisa memberi inspirasi bahwa kita semua sebenarnya terlahir dalam keadaan polos, lugu, dan tanpa prasangka.
Ponijao adalah bayi yang terlahir di Opuwo, Namibia sementara Bayarjargal tinggal bersama keluarganya di Mongolia, dekat Bayanchandmani. Di saat yang sama, Mari adalah putri sepasang suami-istri yang tinggal di Tokyo dan Hattie terlahir di San Fransisco. Tak ada sedikit pun kesamaan pada keempat bayi ini, kecuali keluguan dan keingintahuan mereka pada apapun yang ada di sekitar mereka.
Sutradara Thomas Balmès merancang konsep mengabadikan satu tahun pertama dalam kehidupan empat bayi ini secara bersamaan, tanpa skenario ataupun manipulasi gambar. Semuanya digambarkan apa adanya. Meski orang tua mereka selalu ada di sekitar mereka namun yang jadi bintang dalam film berjudul BABIES ini jelas adalah keempat bayi lucu ini.
Review
Bisa jadi ide awal Thomas Balmès membuat film ini adalah karena belum adanya film dokumenter yang menyorot kehidupan manusia. Film dokumenter yang berusaha mengungkap kehidupan binatang jelas sangat mudah didapat tapi bagaimana dengan proses pertumbuhan manusia? Belum ada kan? Jadi dari sisi ide dasar ini saja Thomas Balmès sudah layak mendapat acungan dua jempol. Selain itu, ditengah banyaknya film dokumenter yang notabene membawa dampak 'depressing' buat penonton, yang satu ini layak untuk dicoba.
Berbeda dengan kebanyakan film dokumenter yang biasanya disertai narasi, BABIES ini sama sekali tanpa narasi. Penonton dibiarkan mengamati sendiri gambar hidup yang bergerak dihadapannya. Tanpa dijejali narasi yang 'mengarahkan' jelas penonton jadi berusaha menafsirkan sendiri apa yang sedang ia saksikan. Tak ada paksaan. Malahan bisa dibilang, kita dikondisikan untuk mengalami sendiri proses yang dialami keempat bayi ini saat mereka sedang berusaha mengeksplorasi alam di sekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Ide ini memang jenius, tapi di saat yang bersamaan, rasa bosan juga tak bisa dihindarkan. Ada kesan sedang menyaksikan home video. Awalnya memang menarik namun melewati pertengahan, bisa jadi sebagian penonton sudah mulai merasa jenuh, apalagi sama sekali tak ada alur kisah dalam film ini.
Film ini bisa jadi memang mendokumentasikan keempat bayi yang disebut di atas namun di saat yang bersamaan, kita juga berkesempatan melihat budaya di keempat lokasi yang berbeda itu. Pemilihan lokasi pun sepertinya sudah dipertimbangkan baik-baik. Tokyo dan San Fransisco mewakili dua peradaban modern yang dikontraskan antara Timur dan Barat sementara Mongolia dan Namibia notabene mewakili area yang masih belum terlalu modern. Ada banyak kontras dalam film ini dan ada baiknya jika menonton tanpa prejudice dengan begitu pesan yang ingin disampaikan Thomas Balmès lebih bisa mengena.(kpl/roc)

Dapatkan segera DVD film "BABIES" di  DREAM VISION HOME VIDEO [Sale dan Rantel] yang telah tersedia...
yuuuk nonton trailernya...!


I Spit on your Grave





" After it was all over... she waited... then she struck back in a way only a woman can! "

Story: Dalam rangka menulis novel perdananya, seorang jurnalis majalah fashion terkemuka di New York, Jennifer Hills (Camille Keaton) menghabiskan musim panasnya di cottage yang terletak di pinggiran sebuah danau di luar kota. Penampilan Jennifer yang cantik menarik perhatian banyak pria lokal. Suatu hari empat orang pemuda setempat menangkapnya dan kemudian secara brutal memperkosa dan menyiksanya secara bergiliran. Untung saja karena suatu hal nyawa Jennifer masih bisa selamat.

Akibat kejadian tragis itu secara perlahan lahan pribadi Jennifer yang tadinya pendiam berubah 180 derajat menjadi seorang wanita
pyscho dengan dendam kesumat yang luar biasa, ia kemudian merencanakan sebuah pembalasan dendam setimpal untuk empat orang yang telah merusak dirinya.


Review: Mungkin bagi kita yang sudah terbiasa menonton film2 bergenre gore thriller modern semacam Saw ataupun Hostel menganggap film besutan Meir Zarchi ini terasa sangat cupu dan mengelikan, namun siapa sangka pada jamannya I Spit On Your Grave menimbulkan kehebohan dan kontroversi, dimana beberapa negara di Eropa mencekal penayangannya dan membuat film yang juga berjudul Day of the Woman ini masuk kedalam kategori film terlarang. Bahkan di Inggris film ini baru muncul dalam format video tahun 2002 dengan potongan sensor sebanyak 7 menit.

Film ini sebenarnya memiliki cerita sederhana, tanpa track musik dan angle kamera yang standar namun dikarenakan muatan adegan2
gore nya yang cukup eksplisit seperti perkosaan dan pembunuhan yang terbilang brutal, ditambah banyaknya adegan2 bertelanjang ria membuat film ini mampu dan menjadi sebuah cult klasik yang masih dibicarakan sampai saat ini. Padahal jika dibandingkan dengan film2 bergenre sama saat ini, I Spit On Your Grave masih terkesan lebih "bersahabat".

Overall,
I Spit On Your Grave bukan film yang buruk, namun juga bisa dibilang bukan film yang istimewa2 banget, namun karena tema yang diangkat terbilang cukup kontroversial pada zamannya karena dianggap merendahkan perempuan dan juga karena terbilang susah mencari dvd / videonya maka pantaslah film ini bergelar cult yang mampu mendapat tempat tersendiri bagi fans2 film gore .


Dapatkan segera DVD film " I Spit on your Grave " di  DREAM VISION HOME VIDEO [Sale dan Rental] yang telah tersedia...


Yuuuk kita nonton trailernya...!

'127 HOURS', Lima Hari di Antara Hidup dan Mati

Pemain: James Franco, Amber Tamblyn, Kate Mara, Lizzy Caplan

Hanya kemauan untuk hidup yang sangat tinggi yang membuat Aron Ralston (James Franco) berhasil menyelamatkan dirinya dari ganasnya alam. Meski terpaksa harus kehilangan satu tangannya, Aron tak pernah menyerah. Meski ia harus mendaki tebing tinggi dan berjalan bermil-mil, itu tak membuat Aron mundur. Di saat-saat tanpa kepastian ini, hanya refleksi masa lalu yang membayang di mata Aron.
Karena sebuah kecelakaan, Aron terjebak di sebuah ngarai di Utah. Dalam keadaan terluka, Aron hampir menyerah. Tak ada harapan untuk selamat. Pada saat orang-orang sadar kalau Aron hilang, semuanya bakal terlambat. Kalau Aron ingin hidup, satu-satunya cara adalah dengan menyelamatkan dirinya sendiri.
Dengan tangan yang terluka dan hampir membusuk, Aron tak punya pilihan selain mengamputasi tangannya sendiri. Dengan segala keberanian, Aron lantas mendaki tebing setinggi 65 kaki dan berjalan sejauh delapan mil sebelum ia akhirnya terselamatkan. Selama perjalanan, yang ada di benak Aron adalah teman-teman, kekasih, keluarga, dan dua orang pendaki yang sempat ia jumpai sebelum kecelakaan. Akankan mereka jadi orang terakhir yang bertemu Aron?

Dapatkan segera DVD film "127 HOURS" di  DREAM VISION HOME VIDEO [Sale dan Rental] yang telah tersedia...